Usung Calon Presiden Anda

Kirim tanggapan/komentar Calon Presiden anda sesuai urutan Poling ke email: kabartoraja@gmail.com atau via FB kabartoraja. Sertakan foto format Jpeg, ukuran 4x6 atau lebih (close up), foto akan diletakkan di samping pandangan anda. Untuk mengirim tanggapan ISI KOLOM dibawah INI
Email:
Judul:
Pesan:
Pertanyaan anti spam: Berapa jumlah mata manusia?

Video Toraja

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini3859
mod_vvisit_counterKemarin8535
mod_vvisit_counterMinggu ini3859
mod_vvisit_counterMinggu kemarin73951
mod_vvisit_counterBulan ini129752
mod_vvisit_counterBulan Kemarin325335
mod_vvisit_counterTotal7891385

We have: 64 guests online
IP anda: 54.198.7.200
 , 
Today: Jul 13, 2014
Rambu Solo', Upacara Adat Penghimpun Masyarakat Toraja

kabar-toraja.com -  Rambu Solo' (upacara adat pemakaman) masyarakat Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan, disebut dengan Puya, yang terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia.

Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian.

Dikatakan demikian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara.

Oleh karena itu, masyarakat Toraja menganggap upacara ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata). Dalam konteks ini, upacara Rambu Solo' menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal dunia.

Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi. Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan.

Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kemapanan ekonomi. Saat ini, sudah banyak masyarakat Toraja dari strata sosial rakyat biasa menjadi hartawan, sehingga mampu menggelar upacara ini.

Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma‘popengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma‘palao).

Selain itu, juga terdapat berbagai atrkasi budaya yang dipertontonkan, di antaranya: adu kerbau (mappasilaga tedong), kerbau-kerbau yang akan dikorbankan diadu terlebih dahulu sebelum disembelih.

Adu kaki (sisemba'). Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa musik, seperti pa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong; serta beberapa tarian, seperti pa‘badong, pa‘dondi, pa‘randing, pa‘katia, pa‘papanggan, passailo dan pa‘pasilaga tedong.

Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang sangat unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yaitu menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya berkisar antara 10–50 juta perekor.

Selain itu, juga terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang bagaikan selendang raksasa membentang di antara pelayat tersebut.

Tingkatan Dalam Upacara Rambu Solo

Upacara Adat Rambu Solo' terbagi dalam beberapa tingkatan dan mengacu pada strata sosial dalam masyarakat Toraja, yaitu:

· Dipasang Bongi: Upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam 1 malam saja.

· Dipatallung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama 3 malam dan dilaksanakan dirumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.

· Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama 5 malam dan dilaksanakan disekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.

· Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama 7 malam yang pada setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.

Upacara tertinggi

Biasanya upacara tertinggi dilaksanakan 2 kali dengan rentang waktu sekurang kurangnya 1 tahun. Upacara yang pertama disebut Aluk Pia, biasanya pelaksanaan Aluk Pia bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka.

Upacara yang kedua yaitu upacara Rante, biasanya dilaksanakan disebuah lapangan khusus karena dalam upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma’tundan, Ma’balun (membungkus jenazah), Ma’roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma’Parokko Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang adalah terakhir Ma’Palao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir).

KTC01 (Dari berbagai Sumber)

 

Play Group Agape


Agape Play Group dan Penitipan Anak

Kantor Berita Radio Nasional

KBR86H logo

banner

Tour And Travel

Permata Travel

JOKOWI Atau PRABOWO?

Pilih Pasangan Capres-Cawapres Anda Ini
 

Penulis Pariwisata Toraja


lintas7.com



Jakarta Punya Berita
Hakcipta © 2011 Kabar Toraja. Semua Hak Dilindungi.